Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Mantan Atasan Taufik Hidayat, Orang Berjasa Terungkapnya Kasus Penyekapan di Bandung

 

Mantan Atasan Taufik Hidayat, Orang Berjasa Terungkapnya Kasus Penyekapan di Bandung
Mantan atasan TH, Dadang Ahyar Ismail.@Beritasatu.com/Algi Gifari


MAJALAHJURNALIS.Com (Serang) - Peran mantan atasan Taufik Hidayat (TH), menjadi salah satu faktor yang mendorong TH, buronan kasus dugaan penyekapan dan penyiksaan terhadap kekasihnya di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung, untuk akhirnya menyerahkan diri kepada polisi.
 
Mantan atasan TH, Dadang Ahyar Ismail, mengungkapkan sebelum ditangkap personel Polda Jawa Barat pada Selasa (23/6/2026), TH sempat menghubunginya dan meminta bantuan serta perlindungan hukum.
 
Menurut keterangan Dadang, komunikasi bermula ketika TH menelepon dirinya. Namun, karena tidak mengetahui persoalan yang sedang dihadapi mantan anak buahnya tersebut, ia sempat mengabaikan panggilan tersebut. Namun, TH terus menghubunginya menggunakan nomor telepon yang berbeda-beda.
 
Setelah mencari informasi, Dadang baru mengetahui bahwa TH tengah menjadi buronan dalam kasus dugaan penyiksaan terhadap seorang perempuan yang viral di media sosial.
 
“Awalnya TH menelepon saya, tanya ‘gimana pak, saya viral se-Indonesia’. Saya cek, benar dia viral. Saya tanya, kamu maunya bagaimana? Dia minta bantuan perlindungan, mungkin karena saya punya anak di kepolisian,” kata Dadang saat ditemui Beritasatu.com di kediaman pribadinya di Perum Griya Pesona, Ciparay, Kabupaten Bandung, Rabu (24/6/2026).
 
Mendengar permintaan tersebut, Dadang menolak memberikan perlindungan seperti yang diharapkan TH. Sebaliknya, ia justru menasihati TH mengenai risiko yang harus dihadapi apabila terus melarikan diri dari kejaran aparat.
 
Dadang menjelaskan ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi apabila TH terus tetap memilih menjadi buronan polisi.
 
“Saya bilang, kalau lari-lari dan mujur sampai tua pasti capek. Kedua, karena kasus sudah ramai, kamu bisa tertangkap keluarga korban dan mati di jalan. Ketiga, tertangkap polisi seperti di televisi, ditembak. Itu kamu pilih saja,” ujarnya.
 
Nasihat Dadang sukses membuat TH berpikir ulang. Setelah mempertimbangkan berbagai risiko yang disampaikan, ia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan diri kepada pihak berwajib.
 
Dadang kemudian berkoordinasi dengan sejumlah rekannya di kepolisian untuk memastikan proses penyerahan diri dapat berjalan dengan aman dan lancar. Upaya itu dilakukan karena selama berkomunikasi, TH diketahui sering berganti nomor telepon sehingga sulit dilacak.



“Saya koordinasi, bikin strategi supaya dia benar-benar menyerahkan diri, karena TH ini setiap telepon ganti-ganti nomor,” imbuh Dadang.
 
Pada Selasa (23/6/2026) sore, TH kembali menghubungi Dadang dan menyampaikan rencananya untuk datang ke rumahnya di Ciparay. Saat itu, seorang anggota Polda Jawa Barat bernama Hendi telah berada di lokasi. Setibanya di rumah tersebut, TH terlebih dahulu diajak berbicara sebelum akhirnya dibawa oleh petugas untuk menjalani proses hukum.
 
“TH datang, lalu Pak Hendi ajak ngobrol dahulu di dalam. Setelah ngobrol sebentar, baru kemudian TH dibawa anggota Polda ke Polsek Majalaya untuk proses awal,” tuturnya.
 
Dadang mengaku ikut mendampingi proses penyerahan diri tersebut hingga ke Markas Polda Jawa Barat sesuai kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya dengan TH.
 
“Perjanjiannya, saya ikut mendampingi. Saya ikut dari belakang sampai ke polda, baru saya pulang,” pungkas Dadang.
 
Dadang juga tegas membantah rumor yang menyebut dirinya memiliki hubungan keluarga dengan TH. Ia menekankan, hubungan dirinya dan TH murni sebatas rekan kerja, tepatnya mantan atasan dan bawahan.
 
Menurut penuturan Dadang, TH pernah bekerja bersama dirinya pada periode 2023 hingga 2024 sebelum berpindah ke tempat kerja lain. Meski sudah lama tidak bertemu, TH masih menganggapnya sebagai sosok yang dihormati dan kerap dimintai nasihat saat menghadapi masalah.
Sumber : Beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar