MAJALAHJURNALIS.Com- Bayangkan begini. Tahun
2026, seorang pelajar bisa tanya PR
Matematika ke AI dalam 3 detik. Tapi anak yang sama bingung jawab pertanyaan,
“Kalau temanmu ditipu online, apa yang harus kamu lakukan?” Itulah
wajah pendidikan Indonesia hari ini. Gadgetnya sudah 2026, tapi nuraninya masih
ketinggalan di 2010. Ada
beberapa yang mau kita bahas berkenaan dengan hal ini Pertama
: Sekolah Sudah Punya Senjata, Tapi Belum Tahu Mau Perang Apa* Dulu
kita ribut soal “sekolah belum ada proyektor”. Sekarang? Gedung
sekolah udah ada WiFi. Guru-guru http://S.Pd.Gr udah ikut pelatihan Guru
Penggerak. Kurikulum Merdeka udah ganti hafalan jadi proyek. Di atas kertas,
kita menang telak. Para
siswa yang sudah tingkat SMP dan SMA sekarang bisa bikin podcast, jualan online
lewat P5, dan presentasi pakai Canva. Itu kemajuan nyata. Nggak bisa kita
bohongi. Masalahnya:
Kita dikasih senjata laser, tapi yang dilatih masih gaya perang tombak. Kedua
: Musuh Terbesar Bukan Lagi “Bodoh”, Tapi “Malas Mikir” Dulu
PR paling susah itu nyari buku di perpustakaan. Sekarang PR paling susah itu...
mikir. Karena
semua jawaban ada di genggaman. Mau esai? Minta AI. Mau rangkuman? Minta AI.
Akibatnya, muncul generasi “pinter nyontek digital”. Nilai 100, tapi otaknya
kosong. Di
sisi lain, ada jurang menganga. Sekolah di pusat kota udah debat etika AI. Sekolah di pedalaman
masih rebutan 1 HP buat absen online. Kesenjangan digital berganti jadi
kesenjangan cara berpikir. Dan
guru? Pahlawan kita itu. Gelar http://S.Pd.Gr-nya banyak. Tapi 60% waktunya
habis buat ngisi e-kinerja, laporan P5, dan rapat. Waktu buat “mengajar
manusia” malah paling sedikit. Ketiga
: Ujian Sebenarnya Baru Dimulai - “Apakah Kamu Masih Dibutuhkan AI?” 2026
itu tahun persimpangan. AI bisa nulis, bisa ngitung, bisa desain. Lalu...
apa gunanya manusia? Jawabannya
cuma satu: Hal yang nggak bisa di-download. Yaitu
karakter. Keberanian bilang “salah”. Empati ke teman yang dibully. Tanggung
jawab saat jadi seorang pemimpin . Mental “Jiwa Ksatria Generasi Muda” yang
nggak akan pernah muncul dari prompt ChatGPT. Sekolah
yang hebat di 2026 bukan yang nilai UN-nya 100 semua. Tapi sekolah yang
lulusannya, saat listrik padam, AI error, dan dunia kacau... dia tetap bisa
berdiri, mikir, dan nolongin orang lain. Penutup:
Kita Nggak Butuh Sekolah Paling Modern. Kita Butuh Sekolah Paling Manusiawi. Jadi,
kualitas pendidikan Indonesia 2026 itu seperti HP flagship dengan baterai 10%.
Canggih? Iya. Tahan lama? Belum tentu. PR
kita sekarangfokus balikin fungsi
sekolah sebagai “rumah kedua” yang membentuk akhlak, keberanian, dan akal sehat
tetapi tidak meninggalkan perkembangan teknologi yang mendukung. Karena
10 tahun lagi, perusahaan nggak akan tanya, “Kamu bisa pakai AI apa?” Mereka
akan tanya, “Saat semua orang pakai AI, kenapa saya harus pilih kamu?” Dan
jawabannya harus: “Karena saya manusia”. Gimana
menurutmu? Kalau disuruh milih, sekolah anakmu nanti mau yang “paling canggih
teknologinya” atau “paling kuat karakternya”?.
(Penulis adalah Kepala Bidang Pendidikan
dan Pelatihan Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Pers Indonesia (DPW
APPI) Provinsi Sumatera Utara)
0 Komentar