Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Saat Sekolah Indonesia Balapan Sama Waktu

 Oleh : Syeh Muhammad Ricky Ramadhan



MAJALAHJURNALIS.Com - Bayangkan begini. Tahun 2026, seorang pelajar   bisa tanya PR Matematika ke AI dalam 3 detik. Tapi anak yang sama bingung jawab pertanyaan, “Kalau temanmu ditipu online, apa yang harus kamu lakukan?”
 
Itulah wajah pendidikan Indonesia hari ini. Gadgetnya sudah 2026, tapi nuraninya masih ketinggalan di 2010.
 
Ada beberapa yang mau kita bahas berkenaan dengan hal ini
 
Pertama :
Sekolah Sudah Punya Senjata, Tapi Belum Tahu Mau Perang Apa*
 
Dulu kita ribut soal “sekolah belum ada proyektor”. Sekarang?
 
Gedung sekolah udah ada WiFi. Guru-guru http://S.Pd.Gr udah ikut pelatihan Guru Penggerak. Kurikulum Merdeka udah ganti hafalan jadi proyek. Di atas kertas, kita menang telak.
 
Para siswa yang sudah tingkat SMP dan SMA sekarang bisa bikin podcast, jualan online lewat P5, dan presentasi pakai Canva. Itu kemajuan nyata. Nggak bisa kita bohongi.
 
Masalahnya: Kita dikasih senjata laser, tapi yang dilatih masih gaya perang tombak.
 
Kedua :
Musuh Terbesar Bukan Lagi “Bodoh”, Tapi “Malas Mikir”
 
Dulu PR paling susah itu nyari buku di perpustakaan. Sekarang PR paling susah itu... mikir.
 
Karena semua jawaban ada di genggaman. Mau esai? Minta AI. Mau rangkuman? Minta AI. Akibatnya, muncul generasi “pinter nyontek digital”. Nilai 100, tapi otaknya kosong.
 
Di sisi lain, ada jurang menganga. Sekolah di pusat kota  udah debat etika AI. Sekolah di pedalaman masih rebutan 1 HP buat absen online. Kesenjangan digital berganti jadi kesenjangan cara berpikir.
 
Dan guru? Pahlawan kita itu. Gelar http://S.Pd.Gr-nya banyak. Tapi 60% waktunya habis buat ngisi e-kinerja, laporan P5, dan rapat. Waktu buat “mengajar manusia” malah paling sedikit.
 
Ketiga :
Ujian Sebenarnya Baru Dimulai - “Apakah Kamu Masih Dibutuhkan AI?”
 
2026 itu tahun persimpangan. AI bisa nulis, bisa ngitung, bisa desain.
 
Lalu... apa gunanya manusia?
 
Jawabannya cuma satu: Hal yang nggak bisa di-download.
 
Yaitu karakter. Keberanian bilang “salah”. Empati ke teman yang dibully. Tanggung jawab saat jadi seorang pemimpin . Mental “Jiwa Ksatria Generasi Muda” yang nggak akan pernah muncul dari prompt ChatGPT.
 
Sekolah yang hebat di 2026 bukan yang nilai UN-nya 100 semua. Tapi sekolah yang lulusannya, saat listrik padam, AI error, dan dunia kacau... dia tetap bisa berdiri, mikir, dan nolongin orang lain.
 
Penutup:
Kita Nggak Butuh Sekolah Paling Modern. Kita Butuh Sekolah Paling Manusiawi.
 
Jadi, kualitas pendidikan Indonesia 2026 itu seperti HP flagship dengan baterai 10%. Canggih? Iya. Tahan lama? Belum tentu.
 
PR kita sekarang  fokus balikin fungsi sekolah sebagai “rumah kedua” yang membentuk akhlak, keberanian, dan akal sehat tetapi tidak meninggalkan perkembangan teknologi yang mendukung.
 
Karena 10 tahun lagi, perusahaan nggak akan tanya, “Kamu bisa pakai AI apa?”
Mereka akan tanya, “Saat semua orang pakai AI, kenapa saya harus pilih kamu?”
 
Dan jawabannya harus: “Karena saya manusia”.
 
Gimana menurutmu? Kalau disuruh milih, sekolah anakmu nanti mau yang “paling canggih teknologinya” atau “paling kuat karakternya”?. 

(Penulis adalah Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Pers Indonesia (DPW APPI) Provinsi Sumatera Utara)

Posting Komentar

0 Komentar