MAJALAHJURNALIS.Com
(Jakarta) - Senegal mengirim pesan tegas kepada
para pesaing di Piala Dunia 2026 setelah membantai Irak 5-0 pada laga terakhir
grup I di Toronto Stadium, Kanada, Sabtu (27/6/2026) pukul 02.00 WIB. Kemenangan
telak itu bukan sekadar menjaga asa lolos ke babak 32 besar melalui jalur
peringkat ketiga terbaik, tetapi juga mencatatkan sejarah baru bagi sepak bola
Afrika. Jika
skenario klasemen tetap bertahan hingga seluruh fase grup berakhir, Senegal
akan menghadapi Inggris pada babak 32 besar, pada Rabu (1/7/2026) di Atlanta,
Amerika Serikat. Pertemuan
itu berpotensi menjadi salah satu duel paling menarik di fase gugur mengingat
performa Singa Teranga yang sedang menanjak setelah sempat terseok pada dua
laga awal. Kemenangan
lima gol tanpa balas atas Irak menunjukkan perubahan drastis dalam efektivitas
serangan Senegal. Tim asuhan Pape Thiaw tak hanya tampil dominan secara
statistik, tetapi juga berhasil memaksimalkan hampir seluruh peluang yang
mereka ciptakan. Performa tersebut menjadi modal penting menghadapi lawan yang
kualitasnya jauh lebih tinggi di fase gugur. Senegal Pecahkan
Rekor Sebelum
menghadapi Irak pada laga terakhir grup I, Senegal berada dalam posisi yang
tidak lagi memiliki kendali atas perebutan dua tiket otomatis ke babak gugur. Dua
kekalahan beruntun dari Prancis dan Norwegia membuat peluang finis pada dua
besar klasemen praktis tertutup Senegal
langsung mengambil inisiatif sejak menit-menit awal. Baru empat menit
pertandingan berjalan, Habib Diarra membuka keunggulan setelah memanfaatkan
situasi sepak pojok. Gol cepat itu langsung mengubah arah pertandingan. Situasi
Irak semakin sulit ketika Rebin Sulaka menerima kartu merah langsung pada menit
ke-13 akibat menjatuhkan Sadio Mané yang memiliki peluang emas mencetak gol.
Bermain dengan 10 orang membuat Irak kehilangan keseimbangan permainan. Meski
unggul jumlah pemain, Senegal baru benar-benar menunjukkan ketajamannya setelah
turun minum. Ismaila Sarr menggandakan keunggulan pada menit ke-56 sebelum Pape
Gueye mencuri perhatian lewat dua gol spektakuler dari luar kotak penalti dalam
rentang 12 menit. Iliman
Ndiaye kemudian melengkapi pesta gol Senegal melalui tembakan keras dari luar kotak
penalti pada menit ke-82. Secara
statistik, dominasi Senegal terlihat mutlak. Mereka melepaskan 28 tembakan
dengan nilai expected goals (xG) mencapai 3,03, sedangkan Irak hanya mampu
menghasilkan enam percobaan dengan xG 0,18. Perbedaan angka tersebut
menunjukkan kemenangan Senegal bukan sekadar karena keunggulan jumlah pemain,
tetapi juga hasil permainan yang jauh lebih efektif. Lima
gol yang dicetak Senegal sekaligus menjadi sejarah baru. Untuk pertama kalinya
dalam sejarah Piala Dunia, negara asal Afrika mampu mencetak lima gol dalam
satu pertandingan. Performa Ismaila Sarr
Jadi Alarm bagi Inggris Setelah
sempat tumpul dalam dua laga awal, lini serang Senegal justru menemukan
performa terbaiknya di momen paling krusial. Ketika peluang lolos hanya bisa
dijaga lewat kemenangan telak, para pemain depan tampil tajam dan mengantarkan
tim meraih hasil meyakinkan.
Sorotan
utama jatuh kepada Ismaila Sarr. Penyerang sayap itu kembali menunjukkan
kelasnya dengan mencetak satu gol dan satu assist. Empat
gol yang telah dikumpulkannya menjadikan Sarr sebagai pencetak gol terbanyak
Senegal sepanjang Piala Dunia. Ia juga telah berkontribusi dalam enam gol
negaranya, terdiri atas lima gol dan satu assist, rekor baru bagi Singa
Teranga. Tak
kalah impresif adalah penampilan Pape Gueye. Masuk sebagai pemain pengganti,
gelandang tersebut langsung mengubah jalannya pertandingan hanya satu menit
lebih setelah memasuki lapangan. Dua gol indahnya menjadikan Gueye pemain
Senegal pertama yang mencetak dua gol sebagai pemain pengganti pada Piala
Dunia. Sementara
itu, Iliman Ndiaye kembali menunjukkan perannya sebagai supersub. Assist yang
ia ciptakan membuat dirinya menyamai rekor Cesc Fàbregas sebagai pemain
pengganti dengan jumlah assist terbanyak dalam sejarah Piala Dunia, yakni tiga
assist. Kedalaman
skuad seperti ini menjadi keuntungan besar bagi Senegal. Ketika pemain inti
mengalami penurunan performa, pelatih masih memiliki opsi yang mampu mengubah
pertandingan dari bangku cadangan. Namun,
ada satu catatan yang masih harus dibenahi. Pada babak pertama, Senegal sempat
kesulitan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Efektivitas penyelesaian akhir
baru meningkat drastis setelah memasuki babak kedua. Jika menghadapi tim sekelas
Inggris, peluang yang terbuang bisa menjadi penyesalan besar. Inggris Wajib
Waspada, Senegal Siap Jadi Kuda Hitam Kemenangan
telak itu seketika mengubah cara pandang publik terhadap Senegal. Tim yang
sempat diragukan usai menelan dua kekalahan kini kembali diperhitungkan sebagai
salah satu kuda hitam yang berpotensi memberi kejutan pada fase gugur Piala
Dunia 2026. Apabila
lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, Senegal diproyeksikan
bertemu Inggris pada babak 32 besar. Di
atas kertas, Inggris memang lebih diunggulkan berkat kedalaman skuad dan
pengalaman bermain di level tertinggi. Namun performa terbaru Senegal
memperlihatkan bahwa mereka memiliki senjata untuk memberikan kejutan. Kecepatan
Ismaila Sarr pada sisi sayap, kreativitas Lamine Camara di lini tengah,
mobilitas Sadio Mané, serta kemampuan lini kedua mencetak gol menjadi ancaman
nyata bagi pertahanan lawan. Secara
psikologis, kemenangan 5-0 juga meningkatkan kepercayaan diri pemain. Mereka
datang ke fase gugur dengan momentum positif setelah sebelumnya kalah dari
Prancis dan Norwegia. Sebaliknya,
Inggris dipastikan akan mempelajari secara serius perubahan taktik Senegal pada
laga terakhir. Variasi serangan dari lini kedua, kemampuan mencetak gol dari
luar kotak penalti, hingga kontribusi pemain pengganti menjadi aspek yang perlu
diantisipasi. Jika
mampu mempertahankan intensitas permainan seperti saat menghadapi Irak, Senegal
berpeluang menjadi salah satu kuda hitam paling berbahaya di Piala Dunia 2026. Meski
demikian, kualitas lawan di fase gugur tentu berbeda. Inggris memiliki
organisasi permainan yang jauh lebih rapi dibanding Irak. Karena
itu, disiplin bertahan, efektivitas memanfaatkan peluang, dan kestabilan emosi
akan menjadi faktor penentu apakah Singa Teranga mampu melanjutkan kisah
bersejarah mereka atau justru harus mengakhiri perjalanan di babak 32 besar. Sumber
: Beritasatu.com
0 Komentar