Presiden AS Donald Trump.@AP/Julia
Demaree Nikhinson.
MAJALAHJURNALIS.Com
(Washington) - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan
serangan militer ke Iran sebagai respons atas serangan pesawat nirawak (drone)
terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz sehari sebelumnya.
Aksi ini menjadi ujian terbesar
terhadap kesepahaman sementara yang disepakati kedua negara untuk mengakhiri
konflik sekaligus menjaga jalur pelayaran strategis tetap terbuka.
Presiden Donald Trump menegaskan,
serangan drone tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan
senjata. Pernyataan itu disampaikan tidak lama sebelum militer AS melancarkan
operasi balasan ke wilayah Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan
pihaknya menyerang sejumlah lokasi militer Iran, termasuk fasilitas rudal,
penyimpanan drone, serta sistem radar pertahanan pantai.
"Saya tidak suka fakta bahwa
mereka melakukan serangan kemarin, sebenarnya empat serangan," kata Trump
di Gedung Putih.
Saat ditanya mengapa AS tetap
menyerang di tengah klaim bahwa pembicaraan dengan Teheran berjalan positif,
Trump hanya menjawab singkat, "Mereka sedikit berbeda." Setelah itu,
ia mengakhiri sesi tanya jawab dengan wartawan.
Di pihak lain, Ketua Komisi Keamanan
Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi membantah tuduhan Washington bahwa
negaranya melanggar gencatan senjata.
"Selat Hormuz diatur oleh Iran,
jadi hormati aturannya. Ini bukan pelanggaran gencatan senjata, ini adalah
pengelolaan gencatan senjata," tulis Azizi melalui media sosial dilansir
dari AP News, Minggu (28/6/2026).
Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya
juga memperingatkan Iran agar segera menyelesaikan setiap perbedaan melalui
jalur diplomatik.
"Namun kekerasan akan dibalas
dengan kekerasan," tegas Vance.
Seorang pejabat AS yang enggan
disebutkan namanya mengatakan operasi militer tersebut berlangsung sekitar satu
jam, setelah diumumkan CENTCOM melalui media sosial.
Kapal
Kargo Diserang di Selat Hormuz
Ketegangan meningkat setelah militer
Inggris melaporkan sebuah kapal kontainer terkena proyektil di lepas pantai
Oman, beberapa jam setelah Iran memperingatkan kapal-kapal agar tidak
menggunakan rute pelayaran tertentu di Selat Hormuz. Pusat Operasi Perdagangan
Maritim Inggris menyebut tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Serangan itu terjadi ketika Organisasi
Maritim Internasional (IMO) tengah mengoperasikan jalur alternatif untuk
mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak di kawasan Selat Hormuz dengan
memanfaatkan rute di sepanjang pantai Oman.
Namun, operasi tersebut akhirnya
dihentikan sementara hingga terdapat jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang
akan melintas.
Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio
Dominguez mengatakan, sekitar 115 kapal telah berhasil keluar dari kawasan
tersebut. Sementara itu, sekitar 500 kapal lainnya masih berada di sekitar
Selat Hormuz.
Selat
Hormuz Jadi Titik Sengketa
Pembukaan jalur alternatif diharapkan
dapat mengurangi tekanan terhadap rantai pasok energi global sekaligus
mengurangi pengaruh Iran dalam perundingan dengan Washington.
AS dan Iran saat ini masih
bernegosiasi mengenai sejumlah poin penting dalam kesepakatan permanen,
termasuk kebebasan pelayaran di Selat Hormuz dan masa depan program nuklir
Iran, khususnya terkait stok uranium yang diperkaya.
Berdasarkan kesepahaman sementara yang
telah disepakati, kedua negara memiliki waktu 60 hari untuk merampungkan rincian
perjanjian tersebut. Namun, eskalasi militer terbaru menimbulkan kekhawatiran
bahwa proses diplomasi kembali terancam gagal.
Sumber : Beritasatu.com
0 Komentar