MAJALAHJURNALIS.Com
(Jakarta)
-
Soliditas antardaerah dalam percepatan pemulihan pascabencana hidrometeorologi
di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menguat. Pemerintah daerah di
Sumut dan Sumbar turut memberikan dukungan kepada Aceh melalui hibah
antardaerah yang bersumber dari pengembalian Transfer ke Daerah (TKD) guna
membantu proses pemulihan pascabencana. Sebanyak
12 pemerintah daerah di Sumbar turut memberikan hibah untuk mendukung pemulihan
wilayah terdampak di Aceh. Sebelumnya, 8 pemerintah daerah di Sumut telah lebih
dulu menyalurkan dukungan serupa. Adapun
total hibah yang terkumpul dari pemerintah daerah di Sumbar mencapai Rp 27
miliar. Dukungan ini berasal dari berbagai daerah, termasuk Kota Padang sebesar
Rp 5 miliar, Kota Payakumbuh dan Kota Padang Panjang masing-masing Rp 3 miliar.
Kemudian, sejumlah kabupaten/kota lainnya dengan kontribusi bervariasi antara Rp
1 miliar hingga Rp 2 miliar. Sebelumnya,
total hibah antardaerah dari Sumut mencapai Rp 260 miliar. Dengan demikian,
total hibah dihimpun dari kedua provinsi mencapai Rp 287 miliar. Dana ini akan
disalurkan langsung kepada daerah-daerah di Aceh yang masih terdampak berat
bencana hidrometeorologi. Ketua
Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR)
Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian mengatakan mekanisme hibah antar
daerah ini merupakan bentuk gotong royong nasional dalam mempercepat pemulihan
wilayah terdampak. "Kami
hanya menghubungkan hibah antar daerah, sehingga bantuan ini bisa langsung
dirasakan. Mekanisme kami kawal, dari rekening ke rekening, agar tepat sasaran
dan cepat dimanfaatkan oleh daerah yang membutuhkan," ujar Tito dalam keterangannya,
Rabu (29/4/2026).
Hal
ini disampaikannya pada gelaran Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi di
Palembang, Sumatera Selatan, akhir pekan lalu. Ia
mengungkapkan pemerintah pusat sebelumnya mengalokasikan dan mengembalikan TKD
dengan nilai mencapai Rp10,6 triliun untuk mendukung pemulihan di tiga provinsi
terdampak. Skema tersebut memberikan ruang fiskal bagi daerah yang relatif
lebih ringan terdampaknya untuk membantu daerah dengan kondisi pemulihan yang
lebih berat. Tito
mengatakan saat ini sejumlah wilayah di Aceh masih menghadapi tantangan
pemulihan, termasuk risiko bencana susulan seperti banjir dan longsor. Oleh
karena itu, kata Tito, percepatan intervensi melalui dukungan lintas daerah
menjadi langkah strategis untuk memastikan pemulihan berjalan merata dan
berkelanjutan. "Total
bantuan dari dua provinsi ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan Aceh. Ini
adalah wujud nyata solidaritas dan gotong royong antardaerah dalam menghadapi
bencana," tambahnya. Tito
menegaskan Satgas PRR memastikan seluruh proses penyaluran hibah akan terus
dikawal secara ketat, baik dari sisi administrasi maupun implementasi di
lapangan. Hal ini bertujuan untuk menjamin akuntabilitas dan efektivitas
pemanfaatan anggaran. Melalui
kolaborasi ini, pemerintah optimistis pemulihan wilayah terdampak di Aceh dapat
berlangsung lebih cepat. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan
daerah dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang. Sumber : detiknews
0 Komentar