Ticker

7/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Keluarga Lapor Polisi Minta Usut Tuntas Kematian Sutrimo

 

Keluarga Lapor Polisi Minta Usut Tuntas Kematian Sutrimo
Perwakilan keluarga almarhum Sutrimo didampingi kuasa hukumnya, Aan Rohaeni seusai membuat laporan di Polresta Banyumas, Sabtu, 8 Agustus 2026 malam.@Beritasatu.com/Dian Aprilianingrum.


MAJALAHJURNALIS.Com (Banyumas) Keluarga almarhum Sutrimo resmi melaporkan kasus kematian kepala rumah tangga (karumga) mantan Jampidsus Febrie Adriansyah itu ke Polresta Banyumas, Jawa Tengah pada Sabtu (8/8/2026) malam. Mereka meminta polisi mengusut penyebab kematian Sutrimo.
 
Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni mengatakan laporan dibuat untuk mencari kepastian hukum atas meninggalnya Sutrimo di tengah munculnya berbagai spekulasi.
 
"Prinsipnya keluarga cuma minta kepastian hukum terkait meninggalnya saudara Sutrimo. Wajar atau tidak, cuma itu saja," kata Aan seusai mendampingi keluarga Sutrimo membuat laporan polisi.
 
Aan mengatakan keluarga almarhum di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Banyumas awalnya sudah menerima dengan ikhlas kematian Sutrimo. Namun, belakangan muncul berbagai informasi yang dinilai simpang siur sehingga keluarga ingin mengetahui kepastian penyebab kematian tersebut.
 
"Karena berita simpang siur ke sana-ke sini, mengganggu lingkungan sekitar buat keluarga juga lingkungan masyarakat di Desa Wlahar. Jadi keluarga ingin kepastian," ujarnya.
 
Menurut Aan, keluarga menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada penyidik. Termasuk mengenai ada atau tidaknya pihak yang nantinya dianggap bertanggung jawab atas kematian Sutrimo.
 
"Keluarga tidak punya siapa terlapornya dan lain-lain, semuanya diserahkan kepada penyidik," katanya.
 
Aan mengatakan keputusan membuat laporan diambil setelah keluarga melakukan pembahasan selama dua hari. Laporan akhirnya dibuat setelah seluruh perwakilan keluarga menyepakati langkah tersebut.
 
"Kami tadi rapat keluarga sampai dua hari berturut-turut. Baru tadi kenapa sampai malam karena tadi mendengar semua. Jadi kalau ada perwakilan ini semata memang sudah kesepakatan keluarga. Akhirnya ya sudah laporan," ujarnya.
 
Aan meminta masyarakat maupun awak media tidak membuat kesimpulan sendiri mengenai penyebab kematian Sutrimo. Dia juga meminta keluarga diberikan ruang karena ibu Sutrimo masih sangat terpukul atas kematian anaknya.
 
"Saya lihat ibunya sangat syok. Jadi mohon maaf setelah ini kami mungkin tidak akan memberikan konfirmasi apa pun atau berita apa pun. Karena semuanya sudah kami serahkan kepada penyidik," kata Aan.


Dia berharap proses penyelidikan kepolisian nantinya dapat memberikan jawaban mengenai penyebab kematian Sutrimo.
 
"Kita berdoa, semoga sebenarnya kematiannya wajar," terangnya.
 
Sementara itu, salah satu keluarga Sutrimo, Abi, mengatakan keluarga pada prinsipnya akan kooperatif apabila polisi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut terhadap jenazah Sutrimo dalam proses penyelidikan.
 
Meski demikian, keluarga sebenarnya tidak menghendaki jenazah Sutrimo yang telah dimakamkan kembali digali.
 
"Kalau dari keluarga sebenarnya enggak merelakan buat digali lagi. Cuma kalau memang dari negara dibutuhkan untuk autopsi demi kepastian itu, mau tidak mau diikuti," kata Abi.
 
Kakak tiri Sutrimo, Tukim, mengatakan keluarga sempat melihat kondisi jenazah ketika tiba di rumah. Saat itu, jenazah sudah dalam kondisi dikafani. Namun, kain kafan sempat dibuka sehingga keluarga dapat melihat kondisi tubuh Sutrimo.
 
"Kondisinya bersih. Sudah dikain kafan," kata Tukim.
 
Dia mengatakan keluarga saat itu tidak menemukan tanda-tanda yang membuat mereka curiga terhadap kematian Sutrimo.
 
Enggak ada. Makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena ya namanya orang kampung. Keadaan jenazah bersih. Jadi enggak ada kecurigaan apa-apa," ujarnya.
 
Tukim menyebut keluarga baru kembali mempertanyakan kematian Sutrimo setelah muncul sejumlah pemberitaan. Karena itu, keluarga memilih membawa persoalan tersebut ke kepolisian untuk mendapatkan kepastian hukum.
 
Keluarga menyebut sejumlah barang yang diterima ketika jenazah Sutrimo tiba di rumah antara lain KTP, uang santunan Rp 20 juta, serta surat-surat keterangan dari rumah sakit. Namun, ponsel milik Sutrimo disebut tidak ikut diterima keluarga.
 
Keluarga kini menyerahkan seluruh proses penyelidikan kepada kepolisian. Mereka berharap proses tersebut dapat mengungkap penyebab kematian Sutrimo secara terang sehingga tidak lagi menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
 
Sebelumnya, Sutrimo ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri di depan Mordent Aesthetic Clinic, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (23/7/2026) pagi. Sutrimo kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan. Jenazahnya sudah dikebumikan di kampungnya Desa Wlahar.
 
Kematian Sutrimo menyedot perhatian publik karena dia diyakini sebagai salah satu orang kepercayaan eks Jampidsus Febrie Adriansyah yang saat ini sedang ditahan karena menjadi tersangka dugaan pencucian uang.
Polisi masih menyelidiki penyebab kematian Sutrimo.
Sumber : Beritasatu.com

Posting Komentar

0 Komentar