Penembakan massal di
Thailand.@REUTERS/Chalinee Thirasupa.
MAJALAHJURNALIS.Com (Jakarta) - Salah satu korban yang
selamat dari penembakan massal di sekolah Thailand menceritakan upaya
dia dan teman-temannya lolos dari tragedi mematikan itu.
Penembakan itu terjadi
di Debsirin Nonthaburi School, Bangkok, pada Jumat (7/8/2026). Saat ledakan
pertama terdengar, Khim dan teman-teman kelasnya mengintip dari jendela kelas.
Ledakan kemudian kian keras dan berulang.
"Saya dengan
beberapa tembakan dan merasa kami tak akan selamat," kata Khim pada Sabtu
(8/8/2026), dikutip Reuters.
Salah satu guru di
sekolah itu lantas berusaha mengamankan Khim dan teman-temannya. Mereka
memindahkan meja untuk mengalangi pintu, mematikan lampu, dan berkerumun di
pojok ruang kelas di Gedung 5.
Khim kemudian memeriksa
tabletnya dan menerima pesan dari sang ibu yang berisi peringatan soal penembak.
"Saya bilang saya
tahu, dan saya bilang, 'Bu jangan telepon saya, karena nada deringnya mungkin
akan berbunyi'," kata dia.
"Lalu, saya
mendengar suara ledakan sangat keras. Rasanya seperti tepat di sebelah telinga
saya," imbuh Khim.
Dia dan teman-temannya
menyadari terduga pelaku hanya berjarak beberapa meter dari tempat
persembunyian.
Tak lama kemudian, guru
yang bersama mereka menginstruksikan agar mengevakuasi ruang kelas, sementara
polisi mengamankan sebagian sekolah. Namun,saat itu, pelaku bergerak ke gedung
4, tempat kakak Khim bersembunyi.
Di tengah persembunyian
itu, kakak Khim menelepon sang ayah, Kwan, yang sedang bekerja di rumah sakit.
Dia memperkirakan pelaku menggunakan pistol. Kwan lalu meminta anaknya
menghitung jumlah tembakan dengan asumsi pistol tak akan menampung lebih dari
15 sampai 20 peluru.
"Hitung tembakannya
untuk memastikan apakah dia kehabisan peluru," kata Kwan ke anaknya pada
saat kejadian.
Menurut keterangan
polisi terduga pelaku menggunakan setidaknya 26 peluru. Sebanyak 34 butir
peluru lain ditemukan di barang bawaannya.
Kwan lebih lanjut
menceritakan suara tembakan terus mendekati tempat persembunyian sang putri.
Dari telepon lain, dia lantas menghubungi saluran telepon darurat. Operator
saat itu memberi tahu bahwa polisi, termasuk unit khusus, sudah tiba di sekolah.
"Saya memberi tahu
mereka, 'Saat ini, saya sedang berbicara dengan anak saya melalui telepon. Dia
ada di lantai dua, [polisi sedang] memeriksa dan mengamankan ruangan satu per
satu dari sisi kanan,'" kata Kwan.
Tanpa peringatan,
panggilan telepon dengan putrinya terputus. Kwan lalu mulai berdoa, sampai
sang putri menelepon kembali beberapa menit kemudian. Dia tak terluka. Beberapa
jam kemudian, keluarga itu berkumpul kembali di rumah mereka di pinggiran kota
Bangkok, tidak jauh dari sekolah.
"Saat bersama, kami
selalu bertengkar," kata Khim tentang kakak perempuannya.
"Tapi melihatnya
kali ini, aku belum pernah menyayanginya sebanyak ini sebelumnya."
Aksi penembakan itu
berlangsung sekitar 40 menit. Pelaku menembak tiga guru, dua petugas sekolah,
dan meluncurkan peluru ke arah dirinya.
Menurut keterangan
polisi, pelaku juga menembak mati kakek dan neneknya di rumah menjelang pagi.
Dia kemudian naik bus ke sekolah, setibanya di sana sekitar pukul 10.00 waktu
setempat peluru mulai meluncur.
Sumber : CNN Indonesia
0 Komentar